Thursday, April 5, 2007

Dakwah dan Media -- Hikmah dan Penyampaiannya

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Pada Al-Qur’an surat Fusshilat ayat 33 di atas, menunjukkan kepada kita tentang orang yang terbaik, yaitu orang yang menyeru kepada Allah. Kita mengajak manusia kepada kebaikan, lalu mengajak pula untuk beramal shaleh. Ayat ini memberitahu kita tentang makna dakwah. Dengan menyeru dan beramal, kita lalu mengharap ridho-Nya agar masuk surga. Namun, mengapa hanya sedikit orang yang mau berdakwah, bahkan kebanyakan orang malah enggan untuk “didakwahi”, padahal balasan dakwah itu surga yang kenikmatannya abadi. Apakah ini terjadi karena faktor internal berupa nafsu, ataukah karena faktor eksternal berupa lingkungan yang tidak baik dan media informasi yang “menyesatkan”.

Mari kita mulai menelusirinya dari definisi dakwah. Secara bahasa, dakwah berasal dari kata da’a – yad,u – du’aan dakwah yang berarti mengundang, mengajak, atau menyeru. Secara terminologi, dakwah berarti mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik hingga mereka meninggalkan thagut dan beriman kepada Allah, agar keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Coba kita tinjau satu demi satu makna dakwah ini. Dakwah berarti mengajak manusia kepada Allah. Tujuan dakwah ialah agar manusia mendapat surga Allah. Kita yakin bahwa setiap orang igin masuk surga, namun kenyataan yang dapat kita lihat, banyak manusia berperilaku seolah-olah mereka ”tak ingin” mendapat surga-Nya. Telah disebutkan bahwa ada 2 faktor penghambatnya, internal dan eksternal. Faktor internal berupa hawa nafsu yang menyebabkan manusia sering lalai dan melakukan dosa. Tentu kita tak bisa menghilangkan nafsu ini, bisa-bisa orang malah menjadi rahib atau biksu (lho..). Yang dapat kita lakukan ialah membuat orang agar dapat menahan nafsunya, yaitu dengan berdakwah. Ini berarti solusinya ada pada faktor eksternal (dakwah kita).

Faktor kedua penghambat orang ”tidak mau masuk surga” ialah faktor eksternal, berupa lingkungan dan media informasi. Orang yang bekerja di toko parfum akan ketularan wangi parfum, orang yang bekerja di pabrik kimia akan terkena bau bahan kimia. Begitu juga dakwah, orang yang bergaul di lingkungan yang islami akan tertular solehnya, namun bila bergaulnya di lingkungan yang buruk bisa juga ketularan buruknya. Seperti itulah pengaruh lingkungan bagi perilaku seseorang. Agar orang bisa baik, maka bergaullah di lingkungan yang baik pula.

Namun, berada di lingkungan baik belum seratus persen menjamin seseorang akan baik. Banyak orang soleh tiba-tiba menjadi jahat, bahkan terkadang ada juga aktivis dakwah yang berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi musuh dakwah. Hal ini dapat disebabkan karena informasi yang diterima melalui media-media. Kita menyadari bahwa media informasi sangat banyak dan mudah untuk diakses. Karena zaman semakin maju, manusia pun terus berusaha menggali informasi dan berita melalui media-media yang ada. Begitu mudahnya sekarang ini bagi seseorang untuk mendapat informasi, maka wajarlah terkadang ada informasi yang ”tak diinginkan” terselip ketika mencari informasi. Yang berbahaya ialah informasi itu malah menyesatkan sehingga orang yang baik menjadi jahat. Salah satu kelebihan media saat ini ialah dapat mengemas isinya dengan baik. Kalau informasinya bagus memang tidak terlalu masalah, tetapi kalau informasinya buruk dan menyesatkan maka hal ini yang harus diwaspadai.

Mari kita kembali kepada definisi dakwah, menyeru dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Maksud dari hikmah ialah dalam dakwah itu terkandung suatu esensi yang berguna bagi orang lain. Ini berarti jangan sampai objek dakwah merasa informasi dakwah yang ia dapat tidak berguna, melainkan harus menimbulkan suatu kesan sehingga materi dakwah terimplementasikan. Sedangkan maksud dari pengajaran ialah cara penyampaian yang baik. Hikmah dan pengajaran yang baik harus terpadu, jangan salah satunya saja yang baik. Secara lebih mudah dapat digambarkan seperti berikut: hikmah ada yang baik dan ada yang buruk, penyampaian ada yang baik dan ada yang buruk. Hikmah yang buruk dengan penyampaian yang buruk akan mudah ditolak, seperti kejamnya pembunuhan. Tentu orang yang mengetahui hal ini tak akan membunuh. Namun, yang lebih berbahaya ialah hikmah yang buruk tetapi penyampaiannya baik, seperti pacaran yang dikemas dalam film sinetron, kekerasan dikemas dengan acara Smack Down, merokok dibilang gaul, dan lain sebagainya. Sesungguhnya yang menyebabkan banyak orang melakukan maksiat ialah karena informasi yang seperti ini. Misalnya pacaran, orang yang mengerti bahwa pacaran itu akan mendekati seorang kepada zina tentunya tak akan pacaran. Namun, karena dikemas dengan baik melalui media seperti TV, maka orang akan dengan “sukarela” melakukannya. Hal-hal seperti inilah yang harus kita cegah, yaitu dengan dakwah di media. Namun, kenyataan yang ada sekarang, hikmah yang baik (dakwah) belum dapat dikemas melalui penyampaian yang baik. Contohnya seperti film siksa kubur, maksudnya mungkin baik, namun cara penyampaiannya yang seram terkadang membuat orang malah menjadi takut. Orang awam yang ingin belajar islam, karena melihat film seperti itu malah menjauh dan mengurungi niatnya.

Maka dari itu, kita harus bisa menguasai media untuk berdakwah. Hikmah yang baik harus tersampaikan dengan cara yang baik pula. Lalu bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan pendekatan kepada objek dakwah. Berikanlah apa yang orang senangi. Misal, orang yang suka dengan ilmu pengetahuan kita lakukan pendekatan dakwahnya dengan film Harun Yahya. Orang yang suka membaca kita dekati dengan tulisan atau artikel dari majalah islami. Dan kalau kita melihat kondisi saat ini, kita dapat memanfaatkan internet untuk berdakwah, karena dapat diakses oleh orang-orang di seluruh dunia.

Dengan penguasaan media, dakwah akan semakin mengena. Jika kita dapat berdakwah melalui media informasi seperti buletin, majalah, televisi, SMS, internet, dan lain sebagainya, maka orang-orang akan dapat mengakses ”kebaikan” dengan mudah. Sehingga diharapkan dakwah kita dapat membuat objek dakwah meninggalkan thagut dan beriman kepada Allah, juga dapat keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

0 tanggapanmu: